“Baik mau dikatakan atau tidak, maka itu tetap cinta. Tidak berkurang sesenti pun perasaan tersebut.” (Tere Liye) Maka karena dinyatakan ataupun diam ia tetaplah cinta, aku lebih memilih diam memendam rasa. Menikmati rasa ini sendiri. Apa bayang tentangku tidak pernah hadir? Kau tanya tentangmu? Ah, sering sekali. Perlahan mengerjap dalam lamunan, dalam usaha belajarku untuk berlari menghindarimu (atau upaya mendekatkan langkah kepadamu?) Entahlah. Aku bahkan telah melakukan perjalanan dalam upaya melupakanmu. Ah, sebagimana perlu waktu untuk menggoreskan tinta cerita, maka tentu ada masa diminta oleh hujan untuk mentahbiskan semua rona agar menjadi gradasi pudar satu warna, kelabu berjelaga ataukah jingga? Entahlah. Yang kutahu warna itu kian dan akan terus berkurang kepekatannya. Kau tahu, usaha melupakan itu paradoks maksimum. Mengapa? Satu sisi berjuang melupakan sama dengan membiarkan sisi lain menggores di atas kanvas ingatan. Lalu mana menurutmu ya...
dream high | do the best | pray to Allah | and you will be the best ^_^