Langsung ke konten utama

DAUN


 Di organisasi ini, kita umpama sehelai daun dari sebatang pohon. Tak lebih dari secuil kuku, lama waktu bagi kita tuk berayun-ayun dalam tenggeran ranting yang menjadi landasan berpijak. Walau begitu, kita tetaplah daun. Tanpa kita semua, apa yang akan dikata dari sebatang pohon. Ya, pohon tersebut akan dikasihani oleh orang-orang yang melewatinya.

“Lihatlah, malang benar pohon itu ditinggal luruh daunnya…” gumam setiap orang yang berlalu melaluimu.

Dari rupa-rupa bentuk kamilah, daun-daun kecil ini, sebatang pohon indah dipandang mata dan menyejukkan bagi yang melihatnya.


Aih, lihatlah ke pucuk-pucuk atas  sana kawan … Adik-adik kami yang masih berbentuk tunas mungil ‘kan merekah dan menunjukkan hijaunya. Sementara itu, adik-adik dibawah kami sedang bermetamorfosa warna, hijau muda mereka sebentar lagi ‘kan menyamai warna kami setahun lalu. J

Hmm, masih kuingat dua tahun lalu saat aku juga masih dalam balutan kuncup hendak membuka mata. Begitu rapuhnya, lalu kakak-kakak dan abang-abang itu yang mengasuhku dalam kebersamaan di salah satu batang. Ya, mereka mengajarkanku sebagai daun yang masih alfa ini, bagaimana cara bertahan dari angin yang menerpa dan sebisa mungkin tidak terbawa olehnya. Begitu pula kakak abang lainnya meski dengan hijau gradasi berbeda turut mengayomiku. Tak pernah lelah. Mereka selimutku saat malam, bilamana aku mulai menggigil kedinginan dan menjadi payungku tatkala kurasa helaianku terbakar oleh terik surya yang bersinar tanpa segan. Mereka jualah oase motivasi dari bening embun pagi hari yang masih belum mampu ditampung oleh badan kecilku nan lemah. Aku dan pucuk-pucuk lainnya, seiring pergantingan detik, menit, jam, hari dan bulan mulai bisa menata bentuk kami. 



Bukanlah hal yang mudah untuk bisa bersemayam terus di pohon ini, tak jarang ulat menggerogoti kami dan membuat teman-temanku terpaksa mati dan meluruh sebelum waktunya. Lalu bagaimana denganku ? Ah, pastilah aku pernah disayat ulat itu dengan runcing taring-taringnya, dan saat aku mengeluh pada kakak dan abangku disana, mereka menguatkan dan menyuruhku mengeluarkan getah-getah keikhlasan dari dalam tubuhku dan membiarkan nutrisi pohon ini yang mengobati guratan-guratan yang dikreasikan ulat itu. Benar saja, aku lebih mampu bertahan sekarang.

“Hanya mereka dengan motivasi lebih besar dari keluh kesahlah yang mampu ikhlas tuk senantiasa tetap berada di pohon ini, dik …” pesan mereka.

Dan kini, tiba masaku untuk menggantikan tugas mereka yang semakin tua warna lembarannnya. Mereka tak selamanya membersamaiku, jika dulu aku dibimbing maka sekarang akulah yang membimbing adik-adik kuncup mungil.

Angin kering musim kemarau mulai menyapa, kulihat lagi kakak dan abang di ujung batang sana, satu persatu mulai meluruh ke tanah dijatuhkan angin kering tadi.



“Biarlah kami yang tua kecoklatan ini gugur dan menjadi pupuk penyubur bagi generasi setelahnya. Jangan lupakan perjuangan kami dalam menghijaukan rumah kita yang pernah lama meranggas. Lihatlah, abang-kakak masa dulu yang pernah menjadikan pokok ini sebagai yang paling elok se-hamparan perladangan. Semoga kelak sekeping cerita perjalanan dapat menjadi motivasi bagi adik-adik penerus. “ ucap salah satu dari mereka sembari tersenyum melihat hunian yang siap bersemi diramaikan adik-adik baru yang akan bertunas.

Iya, kakak-abang... Kami tak akan kalah dalam merimbunkan tempat tinggal kita agar tidak kalah teduh dengan pokok di seberang sana… Meraih kembali gelar terelok itu!!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear 2018

Tahun baru mengingatkan akan bermacam-macam hal, mulai dari #bestnine bomb di Instagram, hiruk pikuk macet lalu lintas tengah kota karena perayaan mubazir semalam suntuk, lentera masjid yang tak padam menjaga kidung asma Allah agar tetap dilantunkan, termasuk sebagian orang (yang katanya optimis) memegang bolpoin dan kertas menulis resolusinya. - Resolusi Tahun Baru Ditulis besar-besar, RESOLUSI 2018 Entah untuk pembuktian atau karena kecewa lantaran ada resolusinya yang banyak tak tercapai di tahun sebelumnya. Gue misalnya. Hanya dua dari sembilan target yang tercapai. Tetap saja, Alhamdulillah. Bicara target, dua yang tercapai itu ialah mengunjungi 3 provinsi berbeda di tahun 2017 dan Meraih 3 penghargaan. - First Dream : Tiga Provinsi Provinsi yang  kukunjungi pertama adalah Sumatera Utara , tepatnya Kota Medan. Alhamdulillah bisa merasakan pembukaan Ramadhan di kota yang terkenal dengan Bika Ambon dan Bolu Meranti-nya ini. Perjalanan ini menjadi istimewa ...

Behind the Scene: #PIMNAS29IPB

Spanduk dan Banner Selamat Datang diguyur hujan Kota Hujan 14 Agustus 2016 Malam ini mataku terjaga. Barangkali aku masih merindukan keriuhan bertemu teman-teman dari seluruh penjuru Indonesia. Dan, aku ingin bercerita, tentang gempita malam itu, tentang janji kami bahwa akan memberikan yang terbaik bagi tumpah darah kami sebagai bakti, dan tentang bangganya kami sebagai mahasiswa meski dengan almamater rupa-rupa warna.  Dik, aku sadar tentang kapabilitas akademisku yang standar. Tapi sejak dahulu aku selalu punya mimpi. Barangkali itulah yang bisa membuatku sanggup bertahan berkalang keterbatasanku ini. Benar dik, bermimpilah. Jika bermimpi saja kau tak berani, lantas apa lagi yang hendak kau perjuangkan dalam hidup ini. Ah, hanya mimpilah yang membuat hidup terasa lebih hidup. Jika bermimpi yang gratis saja kau tak berani, apa lagi tantanganmu menjalani hidup ini? Jadi saat itu aku masih menjejaki semester pertamaku. Ah, biasalah, euforia mahasiswa baru. Be...

Kuroko Basketball : Friendship not just Term that We Ever Heard

  Gambar: Cover film Kuroko Basketball Film yang diadaptasi dari manga Kuroko no Basket (Basketball Which Kuroko Plays) ini mengisahkan tentang pencarian jati diri seorang atlit basket bernama Tetsuya Kuroko.   Walau tak memiliki keahlian dalam dribbling, apalagi shooting (menembak), cowok berambut biru ini justru menjadi tim utama basket SMP Teikou yang memiliki lima anggota Kiseki no Sedai (Generasi Keajaiban), yakni Akashi Seijuroo, Aomine Daiki, Murasakibara Atsushi, Kise Ryota, dan Midorima Shintaro. Dan mampu membuat sekolah tersebut sebagai jawara di Kejuaraan Nasional Basket tiga kali berturut-turut. Tetsuya sendiri memiliki gelar anggota keenam Kiseki no Sedai, pemain Bayangan (the Phantom Sixth Players). Bagaimana bisa? Ternyata kemampuannya dalam passing (mengoper) tak diragukan oleh anggota Kiseki no Sedai, karena hawa keberadaannya yang lemah dan kemampuannya dalam mengalihkan pandangan lawan (misdirection). *seperti trik sulap gitu* [Well, au...