Selamat malam adinda, telahkah siluet
mentari yang memudar di atas kanvas mega putih biru mengindahkan harimu? Maaf
bila aku yang kemudian menorehkan secarik kelabu bermandikan rintik hujan yang
menemaramkan ceriamu.
Jangan
tertipu oase menyejukkan yang ditangkap pandangmu bila kau sendiri tak beranjak
membuktikannya, sahabat. Bagaimana bila ia hanya fatamorgana? Kecewa.
Sebelum
kau beralih dan berlari membawa masalahmu, bisakah aku yang menjadi
pemberhentiamu? Karena, aku cemburu padanya. Meski tak jarang kita berbeda,
percayalah mungkin itu yang terbaik bagi kita akhirnya. Lihat, padang bunga kan
lebih menawan justru bila warna kelopaknya beragam. Aku tak selalu
membenarkanmu karena aku menyayangimu melebihi dia. Tahukah?
Saat
kau terisak, sungguh aku yang sesak. Perih, karena aku terlalu kaku tuk sekedar
mengusap air matamu. Tapi disini, ada yang menangis dan berharap tuk menarik
kembali riangmu. Percayalah.
Tiada
sesulit mengalah pada ego sendiri, namun bisakah lebih berusaha? Opini akan dia
yang selalu salah dapatkah disubstitusi dengan apa aku ada salah? Sederhana.
Tapi jauh dampaknya.
Untuk
adindaku yang terkadang merasa kesepian, mengapa tak berbaur pada keramaian?
Bukankah lebih sulit bila kau bersikukuh pada wujudmu sedang engkau melebur jua
pada yang lain? Laksana es yang terapung di atas air. Tiada penatkah?
Ada
hati yang perlu diobati bila kau tertawa diatas penderitaan ini. Mengapa tidak
bermuhasabah dan bersikap lebih objektif. Kenali, dan pelajari. Siapa yang
benar?
Lantaran diri tak sempurna, maka aku
membutuhkanmu untuk melengkapiku. Aku padamu, adindaku.
*tulisan ini kudedikasikan untuk sahabat H-Gee yang senantiasa melengkapiku :)
Komentar
Posting Komentar